Minggu, 13 Desember 2015

Sadar Gak Sih, Kita Diserang Produk Asing (?)


Dulu tanah air kita dijajah oleh Negara asing. Hari ini kehidupan kita dikuasai oleh produk asing. Bener ternyata Kekhawatiran Soekarno dulu, yaitu penjajahan gaya baru. Kini bukan fisik yang dijajah akan tetapi ekonomi lah yang dijajah, yaitu dengan lewat jalan perdagangan bebas yang tanpa pajak dan cukai.

Menurut hasil survey AC Nielsen , Indonesia tercatat sebagai Negara yang paling konsumtif di dunia. Hal ini merupakan pasar yang empuk dalam memasarkan produk. Terdapat 60 % produk asing menguasai pasar domestik. Dengan begitu, sebagai pelaku usaha harus terus memperbaiki standar produk dan inovasi. Jika tidak ingin di serang produk-produk asing. Selain harga-harga produk-produk asing sangat murah dan kualitasnya pun dapat dibilang baik.

Dalam menghadapi serangan produk asing yang masuk ke Indonesia, tidak bisa dilakukan oleh kalangan pebisnis sendiri, campur tangan pemerintah dan masyarakat mutlak juga harus ada.  Kebijakan Menteri Perdagangan No. 7 Tahun 2013 sangat membantu produk-produk UMKM dan IKM yaitu  mengatur 80% produk dalam negeri harus memenuhi sejumlah pusat perbelanjaan pasar ritel modern,  hal ini bisa meningkatkan daya saing produk nasional saat serangan produk asing dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2016.

Dukungan dari masyarakat pun diperlukan, untuk memulai dan sadar  untuk mencintai dan membeli produk-produk lokal. Generasi Muda sebagai agen perubahan sudah saatnya sebagai anak negeri membuat gerakan nasionalisme konsumen  untuk  menggunakan merek lokal. Kalau bukan dari generasi muda, siapa lagi? Mulai sekarang tanpa tapi dan nanti.
Ayooo Berjuang untuk mewujudkan kemerdekaaan merek Indonesia, agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Senin, 12 Oktober 2015

Surat Terbuka Untukmu!


Hai, apa kabar? Terdengar klise mungkin untukmu, padahal kita dulu pernah sedekat itu, saling sapa dan bersenda gurau dan menghabiskan waktu seharian bersama.

Mungkin aneh, Dibilang teman juga bukan kita udah gak pernah berkomunikasi lagi semenjak itu. 

Orang yang dulu pernah kita sayang berubah jadi orang yang cuman sekedar tau di social media. Oh, sekarang udah punya pasangan baru. Selamat yah :)

Lama tak berkabar membuat merasa asing sebagian percakapan, lontar kata yang terkadang kaku dan maksa hanya sekedar ingin mengetahui kamu baik-bak saja.

Saling mendam dan mungkin berbumbu buang muka jika suatu saat bertemu. Merenung sejenak,  ke egoisan kita jika mendambakan pertemuan tanpa ingin mengakhiri perpisahan.

Manusia itu makhluk absurd bukan? Selalu merayakan pertemuan tapi mengutuk perpisahan, mendamba ikatan tapi menyerapahi lepasan. Padahal kita tahu Tuhan menciptakan benda berpasang-pasangan, tidak pernah sendirian. Kita berharap hubungan yang hanya akan terpisah maut, tapi ketika tidak berjalan seperti yang kita inginkan, kita mulai menyumpahi semua hal. kita, waktu, tempat, keadaan, dan Tuhan. Entah apa yang kita mau, lalu kita berpisah seperti orang yang tidak (mau) kenal satu sama lain lagi.
Kita sudah hidup dengan kehidupan kita masing-masing. Hidup yang mungkin sempat kita bayangkan bersama, tapi dengan sedikit modifikasi alur: kita berjalan berlawanan arah. Kita berdua pernah muda dan naïf, pernah beranggapan hidup adalah panggung dengan naskah drama kita sendiri, lupa bahwa menemukan yang tepat tidak berarti membenci mereka yang pergi, mereka yang bukan.

Bukan, surat ini bukan permintaan maaf, hanya ajakan miinum teh sore bersama.

Kemudian di penghujung nanti, apa yang kita dapatkan jauh lebih besar dan indah dari apa yang kita minta dalam do’a , pada waktu-Nya. Semoga ini menemani kita dalam keraguan akan do’a yang belum terkabulkan.


Now Playing: Siapkah Kau” Tuk Jatuh Cinta Lagi”?
(sumber: kutipan cokelatputih)

Sabtu, 10 Oktober 2015

Aku Tertipu Indomaret (?)

Kenapa Tertipu di Indomaret (?)

Saya termasuk Fans garis keras belanja di Indomaret karena cita-cita sederhana waktu kuliah dulu, pengen jadi karyawan indomaret yang selalu tersenyum dan menyapa orang-orang tanpa pamrih.(baca: jomblo: butuh perhatian). Cita-cita sederhana tapi mimpi harus tetap melangit. #terdapatkatabijak.

Okeh, yang mau saya bahas disini adalah produk retail yang ada di indomaret. Biasanya kalau di Indomaret, saya suka beli air mineral 1500ml ml tiap 3 hari sekali atau bahkan langsung stock buat semingguan dan belinya yang botolan biar gampang habisinnya (baca: karena gak punya gelas).

Awalnya kalau belanja di Indomaret gak terlalu memperhatikan harga (baca: awal bulan) beli yah beli aja. Saya biasanya beli air mineral merk Nestle (baca: suka tanpa alasan) harganya pun, waktu itu Rp 4.900. Kemudian minggu berikutnya, harganya Rp 5.200. Masih wajar sih, karena bawa uang lebih, tapi makin kesini harganya kok tambah naik secara perlahan, trus tiba-tiba jadi  Rp 5.500 sampai Rp 5.900. 

Karena kebutuhan ya masih saya beli, minggu berikutnya stocknya air mineral yang Nestle habis, karena udah terlanjur suka, saya memutuskan untuk beli di toko sebelah. 5 hari berikutnya saya ke Indomaret lagi dan ingin membeli air mineral merk Nestle, dan ternyata stocknya masih kosong.

Mulai melirik air mineral merk yang lain (baca: yang ada merk Aqua, Club, Indomaret). Hmm, cewek sensitive dengan harga. Yups, harga promo atau harga coret . Air mineral merk Indomaret lagi ada promo beli 2 gratis 1.  Harga Aqua saat itu stabil di Rp 5.900, Club Rp 4.200, dan Indomaret Rp 3.500. Masih enggan beli harga promo, jadi belinya diharga yang menengah. Akhirnya belilah air mineral Club.

Bulan berikutnya, masih cari air mineral merk Nestle, ternyata stocknya pun belum ada. Sampai detik ini pun, air mineral merk  Nestle udah gak ada lagi di indomaret langganan. (baca: strategi market)
Akhirnya saya tergoda untuk beli air mineral merk Indomaret dan masih ada promo beli 2 gratis 1. Lumayan bisa hemat dan rasanya pun hampir sama dengan air mineral merk Club.

Perhatikan dengan seksama!


Okeh, dari pengalaman saya tadi, saya mulai sadar ini permainan produk retail besar. Air mineral merk Indomaret ternyata satu produsen dengan air mineral merk club. Didistribusikan oleh satu perusahaan yang sama. Dari kemasan dan tutup botolnya pun sama, tinggal ganti label merk doang. (baca: didistribusikan oleh PT. Tirta Sukses Perkasa). Bayangkan aja jumlah  gerai Indomaret yang beroperasi lebih dari 10.600 gerai yang tersebar di seluruh jawa, Bali, Madura, Kalimantan, Sulawesi dan Lombok. Apakah kita tidak akan tergoda untuk mensupply produk kita yang sudah nyata didistribusikan ke seluruh gerai indomaret? (baca: money oriented). Untuk detail rincian kasarnya, nanti saya akan bahas di postingan berikutnya.

Jadi, kalau gini siapa yang dirugikan? Atau saling menguntungkan?

UKM apa kabarnya? #bersambung