Jumat, 20 Januari 2017

Bermula dari Main-main, Bisa Jadi Serius. Mulai Bisnis Bisa Sesimpel Itu!

Berawal dari kegemaran ngemil snack kacang-kacangan berakhir jadi geram, setiap ke supermarket selalu melihat produk-produk luar yang hampir mendominasi 80%  khususnya yang berada di pasar modern.

Kesel sih, kalau ke supermarket produk luar selalu terlihat di depan, sedangkan kalau mau beli produk UKM pasti adanya di rak paling belakang. Mungkin, karena modal nya juga harus gede dan kemasan nya pun nggak menarik. Yang bikin tambah kesel lagi, produk luar itu udah mahal dan rasanya nggak enak pula.


Semesta menyambut, dapat oleh-oleh snack mix kacang-kacangan dari teman waktu ke Singapore. Mulai mikir lagi tuh, mereka kan gak punya sumber daya alam yang melimpah, tapi kok bisa membuat produk yang bagus? Harganya jauh lebih mahal dan nggak terlalu enak juga sih..!  Padahal, bahan bakunya juga dari Indonesia.


Belum terlintas saat itu mau buat produk dari kacang mete, masih nggak kebayang soalnya. Mulai deh, iseng cari tau di mbah google yang bahan bakunya melimpah dan mudah didapatkan. Ketemu lah, informasi  bahwa Indonesia masuk sebagai 10 besar Negara produsen kacang mete di dunia.

*bersama tim riset di mbah google :p


Dari situ, muncul ide untuk bertekad bisa mengangkat dan mengolah produksi kacang mete dalam negeri agar bisa menyaingi produk-produk luar dengan memadukan cita rasa nusantara dengan kemasan yang modern.


Ternyata dari main-main bisa jadi serius, mulai dari kesal jadi Cinta. Akhirnya, mantap dan serius untuk membesarkan bisnis kacang mete. Ahhh, Mulai bisnis bisa sesimpel itu!


*Sneakpeak-Kacang La Mente

*Founder dan CEO La Mente Food





Jumat, 13 Mei 2016

1 Produk GRATISan = Menunda 1 Orang MENIKAH

Bayangkan, bisa sampai seserem ini! Populasi jomblo semakin merajalela. *ouchhh 
😨😨


Mewakili goresan hati teman-teman sebagai pelaku usaha, yang sama-sama lagi berjuang untuk memenangkan hati calon mertua. Okeh, ini serius
Semua teman dari TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, Keluarga, Sepupu, Saudara Jauh, sampai mantan calon gebetan pada minta "tester" bahasa halus dari kata "Gratis".


Katakanlah, ada 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10 orang pada minta "tester" masih nggak masalah (((nggak masalah))) bagi kalian. Mari kita bongkar dapur terlebih dulu:

1. Ingat kita harus beli bahan baku, pakai duit.
2. Biaya Operasional, listrik, gas, air, internet, dll, pakai duit juga.
3. Gaji Karyawan, pakai duit juga.
4. Dan masih banyak lagi.

Kalau semua minta "taster", cashflow tidak lancar, penghasilan berkurang, ditinggalin pacar, dan akhirnya gagal nikah. Selalu ada orang yang tidak peduli dengan tenaga, waktu dan biaya yang sudah kita keluarkan. Ironisnya, itu justru biasa dilakukan oleh orang-orang yang mengenal kita.

Tapi Saya percaya, teman-teman disini nggak begitu. Selalu menghargai dan mensupport karya anak bangsa dengan mencintai dan membeli produk-produk lokal. smile emoticon
So, tunggu apalagi! Actiion. 👍

Postingan ini terinspirasi dari tulisan>>
http://www.kikasyafii.com/stop-minta-gratisan-untuk-produk…/

Selasa, 08 Maret 2016

Travel. Adventure. Inspire. Eat La Mente

Senang banget bisa jalan-jalan menikmati suasana kota bandung yang dijuluki kota kembang ini. Saya merasakan  suasana kota bandung  yang baru, lebih bersih, banyak ruang terbuka hijau, memanusiakan jalur pedestrian, ahh Bandung  jadi tambah romantis. :*



Dikutip dari situs Indonesia Travel, akhir 2015 perjalanan wisata nusantara  akan melampaui target sebesar 255 juta perjalanan dan salah satu tujuannya di kota Bandung. Ini menandakan bahwa kegiatan travel atau traveling sekarang ini jadi lifestyle anak muda bahkan keluarga. Motifnya pun berbeda-beda, ada yang untuk sekedar melepas penat, mencari suasana baru atau sebagai pengakuan social yang penting sudah bisa foto-foto dll.  

Wow wow wow!! Macam-macam yah motif di balik traveling yang sudah saya tanyakan ke beberapa teman, tapi saya gak akan bahas kesitu, percuma kita kan punya sudut pandang yang berbeda-beda. Asyikk gak tuh. Hahaha
Jangan Malu Bertanya!
Disini saya bakal cerita 1 hari jalan-jalan di Bandung. Sehari gak cukup sih, pasti gak mau pulang, Percayalahhh! Travel bagiku bukan hanya sekedar  jalan-jalan tapi didalamnya ada sebuah adventure dan juga inspire. Dan traveling  kali ini saya mencoba untuk menelusuri landmark kota Bandung.

sepanjang jalan asia afrika

Museum Konferensi Asia Afrika
Bangunan Tua
Gedung Merdeka
Alun-alun Bandung
Gedung Sate
#Adventure. saya mencoba untuk sesuatu yang baru tapi tidak untuk turis mancanegara. Yah, jalan kaki berkilo-kilo meter dilakoni yang biasanya kemana-mana naik kendaraan. Sudah seperti turis mancanegara, bawa ransel kemana-mana, isinya sih kamera, laptop, tripod dan yang paling penting  cemilan selalu ada. Dan asyiknya lagi jalur pedestrian di Bandung itu nyaman banget, ada banyak bangku yang disediakan untuk menikmati suasana kota Bandung, ditambah banyak bunga-bunga warna merah yang digantung di pohon menghiasi suasana rindang kota kembang ini.



Kalau mau nyebrang di zebra cross yah!

Inspirasi baru bisa datang dari mana aja salah satunya dari kulinernya yang ada di Bandung. Gak lengkap rasanya kalau jalan-jalan gak icip-icip kuliner lokal. Pas banget dengan suasana bandung yang lagi hujan icip-icip batagor, tahu gejrot, seblak seuhah. Sayangnya lupa diabadikan, pada kelaparan. Maafkan :(. Bandung memang juara kalau untuk masalah kuliner nya. TOP dah!

Buanglah mantan pada tempatnya *eh sampah maksudnya 
Terakhir saya selalu bawa air mineral dan juga bawa cemilan praktis untuk menambah  energy ketika jalan-jalan. Salah satu isi dalam tas saya ada camilan Kacang La Mente yang juga salah satu produk inovatif dari Bandung.


Seruuu juga ternyata 1 hari jalan-jalan di Bandung. Ungkapan yang pas, seperti kalimat dibawah ini.
“Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum” –M.A.W. Brouwer



 Nuhun Pisan Bandung! Dibalik setiap perjalanan pasti ada cerita yang tersirat.
Salah satu momen mengharukan pada saat merekam, Jangan Dilihat! -,-"


Yuk, share pengalaman traveling mu seperti apa?

Senin, 08 Februari 2016

DAGO

Kalau Ke Bandung, Siapa sih yang gak tau Dago?

Biasanya sih, saya ke dago hanya untuk olahraga . Ekspektasi Olahraga, Realita Cuman Jajan.
Minggu kemaren  Ke CFD (Car Free Day) Dago , Terjebak nostalgia positif kalau kesini pasti ingat pertama kali jualan di Bandung.


*bersama tim horeee la mente
Bisa dibilang sepanjang Jalan Dago itu  saksi bisu perjalanan bisnis ku, dari mulai project kampus sampai  membuat bisnis sendiri Kacang La Mente dan sekarang juga masih sendiri. *menuju move on 2016.

Kalau diingat-ingat lucu juga sih, hahaha dulu jualan cheese stick  di CFD dago selama 4 jam omset 100rb. Yah lumayan lah buat anak kos saat itu.  Buat event dan bagi-bagi brosur juga pernah disini, sampai tau gaya-gaya orang ketika menolak dibagikan brosur. Buka stand makanan  dan rugi , eh bukan rugi sih tapi harga pembelajaran segitu. *mayan sih. Huahaha

Dari untung, rugi sampai bisnisnya pensiun di usia muda alias almarhum mungkin  Sepanjang Jalan Dago ini tau.
Kalau kata pidi baiq- “ Dan Bandung bagiku  bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi”.

Inilah perasaan ku terhadap Bandung dan aku jatuh cinta untuk selalu bertumbuh dan belajar di kota Bandung. Nuhun Kang Emil membuat bandung senyaman ini. :*

#edisibulankasihsayang #mintadicariinjodoh #nuhunkangemil #bandungjuara 
                                


Jumat, 15 Januari 2016

#BanggaMembangunKaltim

Curhatan anak daerah yang merantau….
Sebenarnya sih keluar Kaltim bukan berarti tak kembali, pergi bukan berarti meninggalkan kan? Hehe.

Di Bandung kami sebagai kaum minoritas, butuh adaptasi sekali dalam hal Bahasa, Sosial dan Budaya urang Sunda  yang  180’ bertolak belakang dengan orang Kaltim.

Trus bingung, gimana caranya sebagai anak rantauan  untuk bisa tetap eksis, nggak dibilang murtad, nggak pulang-pulang jadi anak daerah ? Perluaslah wawasan supaya nggak basi, bukan masa bodoh dengan “terlihat bodoh” tanpa berbuat.




*bubuhan kaltim

Kalau menurut versi saya, membangun Kaltim disini tidak harus jadi orang besar dulu (baca: penting,pejabat) untuk memberikan sesuatu ke daerah. Hal-hal kecil pun bisa, dengan berbuat sesuatu yang positif dan bermanfaat buat orang lain diantaranya :
  1. Jadi anak muda yang mandiri, salah satunya dengan berbisnis, kita bisa membantu pemerintah dalam hal menyediakan lapangan pekerjaan.
  2. Membentuk komunitas anak muda kaltim, kita butuh teman curhat dan support satu sama lain.
  3. Setidaknya kampanye melalui kaos #banggamembangunkaltim dulu biar orang-orang tau kita ada.  Samaan yuk kaosnya, HIHI :)


Lantas, Pertanyaannya untuk kita semua.
Apa sih yang sudah kita berikan sebagai putra-putri daerah??
Cungg your hand! ANAK KALTIM MANA SUARAAANYAAA????~~~~

Sebuah "perjalanan" bersama, Buat kamu yang #banggamembangunkaltim , Setidaknya kita se-vibrasi, se-visi dan se-misi untuk satu gerakan bareng-bareng dengan hastags #banggamembangunkaltim.

Salam,

Yang Muda, 
Berbagi dan,
Berbisnis.

Jangan lupa, Share dan Comment nya yah :)

Kamis, 07 Januari 2016

Siap Datang Siap Hilang !

Begitulah kata-kata yang sering saya dengar dari pengusaha senior yang pernah saya temui untuk jadi seorang PENGUSAHA MUDA.

Hari ini saya dapat kesempatan untuk bisa belajar, berkunjung ke factory c59 (Caladi Lima Sembilan) dan sharing bersama  Pak Wiwiet selaku pemilik c59. Meskipun usia sudah menginjak angka 50an tapi semangat dan gayanya anak muda banget, Salutt Pak.

Dulu, waktu saya kelas 3 SMP merk c59 sangat terkenal dan bangga saat memakainya, apalagi ditambah dengan merk c59 itu sendiri dari Bandung yang terkenal dengan dunia fashion nya (Paris Van Java). Sekarang bisa melihat langsung semua proses produksi pembuatan kaos c59.  *senang dong :) 









Perjalanan bisnis pak wiwiet yang jatuh bangun merintis  usaha c59 sampai akhirnya bisa besar seperti sekarang  dan tetap eksis selama 35 tahun di dunia fashion clothing. Usaha berkah, memiliki 500 karyawan dan memberikan dampak sosial kepada orang banyak, itu sangat mengangumkan dan patut ditiru pola suksesnya.

Masih ingat apa yang dikatakan Pak Wiwiet, “Apa yang kamu ingin lakukan dalam pekerjaan mu?” Apa kamu sudah berguna buat orang lain?. Well pertanyaan dasar yang sering dilontarkan para pengusaha senior. Kalau dulu pikirannya masih kolot banget, pokoknya saya dapat duit banyak aja. Ternyata ketika kita sudah terjun berbisnis, prinsip dasar manusia yang money oriented itu mulai berubah mindset nya.

Hal ini selaras dengan impian besar saya, untuk terus berbagi kebaikan dengan banyak orang, bisa membantu orang lebih banyak lagi, mau beli apapun nggak susah payah dan mau sedekah pun nggak usah mikir harus di audit keuangan dulu. Hehehe
Ternyata benar yang di bilang Guru saya, Bisnis itu merupakan Perjalanan Spiritual. 

Thank you Mr. Wiwiet (Owner c59)
Keep Inspiring us and always be the figure of succesfull entrepreneur.



Minggu, 13 Desember 2015

Sadar Gak Sih, Kita Diserang Produk Asing (?)


Dulu tanah air kita dijajah oleh Negara asing. Hari ini kehidupan kita dikuasai oleh produk asing. Bener ternyata Kekhawatiran Soekarno dulu, yaitu penjajahan gaya baru. Kini bukan fisik yang dijajah akan tetapi ekonomi lah yang dijajah, yaitu dengan lewat jalan perdagangan bebas yang tanpa pajak dan cukai.

Menurut hasil survey AC Nielsen , Indonesia tercatat sebagai Negara yang paling konsumtif di dunia. Hal ini merupakan pasar yang empuk dalam memasarkan produk. Terdapat 60 % produk asing menguasai pasar domestik. Dengan begitu, sebagai pelaku usaha harus terus memperbaiki standar produk dan inovasi. Jika tidak ingin di serang produk-produk asing. Selain harga-harga produk-produk asing sangat murah dan kualitasnya pun dapat dibilang baik.

Dalam menghadapi serangan produk asing yang masuk ke Indonesia, tidak bisa dilakukan oleh kalangan pebisnis sendiri, campur tangan pemerintah dan masyarakat mutlak juga harus ada.  Kebijakan Menteri Perdagangan No. 7 Tahun 2013 sangat membantu produk-produk UMKM dan IKM yaitu  mengatur 80% produk dalam negeri harus memenuhi sejumlah pusat perbelanjaan pasar ritel modern,  hal ini bisa meningkatkan daya saing produk nasional saat serangan produk asing dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2016.

Dukungan dari masyarakat pun diperlukan, untuk memulai dan sadar  untuk mencintai dan membeli produk-produk lokal. Generasi Muda sebagai agen perubahan sudah saatnya sebagai anak negeri membuat gerakan nasionalisme konsumen  untuk  menggunakan merek lokal. Kalau bukan dari generasi muda, siapa lagi? Mulai sekarang tanpa tapi dan nanti.
Ayooo Berjuang untuk mewujudkan kemerdekaaan merek Indonesia, agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri.